Sabtu, 19 Desember 2009

fanfic deathnote

Saia bikin semacam biodata kecil-kecilan ala DN charas. Hehe. Pas bikin di word, saia pake background Mello~ uhhh so sweet~ Saiia harap ini cukup sederhana, sehingga bisa disebut fluff. Um, saiia crossrover sama Naruto~ Oke? Let’s read!! ~sparkle~
--- ©©© --- xxx --- o0o --- xxx --- ©©© ---
DnN chara’s (hide) bio
Pair : yaoi semua, al: Lraito, MattMello, Narusasu
Genre : romance/(sedikit)humor
Rate : Teh (13+)
Warning : sesuai tokohnya, fic ini berisi yaoi!!! Yang nggak suka, pergi aja! Yang suka, baca en review! Okeh? Ah, warning lain : gajeness, out of mind, dan yang paling parah, suka-suka author! Bagi yang nggak suka yaoi humor, silakan~ mau pergi ato apa~ dosa ditanggung pembaca, authornya udah ke neraka (??)
Disclaimer : DeathNote © Tsugumi Ohba ‘n Takeshi Obata
Naruto © Masashi Kishimoto
Fic ini © otak author
.
.
.
Suatu pagi di desa fanfiction, tersebutlah dua kelompok anime/manga yang cukup terkenal di dunia, yaitu kelompok DeathNote dan kelompok Naruto. Para tokoh hidup dengan damai, apalagi, bagi anime/manga yang ceritanya sudah tamat, nasib semua tokoh sudah ketahuan. Bagi anime/manga yang belum tamat, mereka merasa agak was-was dengan nasib mereka yang asli. Yah nasib mereka di fanfiction, sudah tidak bisa diharapkan lagi. Ada banyak badai, badai yaoi, badai yuuri, dan yang paling mengguncang, adalah badai pasangan straight (??)
Untuk mengatasi badai itu, maka para Dewa di langit mengutus sesosok makhluk yang memiliki sifat amat gak karuan, padahal amat aja karuan, demi menyelesaikan permasalahan~
Dan, diutuslah sesosok makhluk dari dasar neraka. Matanya coklat gelap, saat malam terlihat hitam karena gak punya lampu. Rambutnya berwarna coklat, maunya di-highight merah, tapi karena masih SMA, belum boleh. Wajahnya enak dilihat, namun tidak enak dimakan. Tubuhnya tinggi, kakinya jenjang. Cewek ataupun cowok senang melihatnya. Dia begitu tampan, dan memiliki senyum manis.
Dialah Sang OOC kita, CASH !!!
Bletak!! Oke, cerita sebenarnya~
Cash- adalah sesosok makhluk yang datang dari dasar neraka akibat perintah dewa-dewa di langit. Dewa-dewa itu ingin memastikan apa benar kabar burung dan fic-fic yang beredar di internet bahwa ada banyak chara di dunia anime/manga yang beryaoi ataupun beryuuri. Maka, diutuslah si Cash ini, datang ke fanfiction untuk menyelidiki. Karena memang dasarnya si Cash malas, apalagi dia suka dengan bishi (dan dia sendiri yaoi) maka untuk mempermudah pekerjaannya, ia pun menyebarkan angket untuk diisi biodata oleh beberapa cowok ganteng. Nah, mari kita lihat, hasil dari angket itu!
--- ©©© --- xxx --- o0o --- xxx --- ©©© ---
Di fandom DeathNote~
“Oi Matt! Mana coklatku?” teriak Mello. Ia sedang berada di sebuah kamar hotel bintang tujuh (kayak obat sakit kepala) di Jepang. Dengan alih-alih di Whammy dulu mereka sekamar, Cash memberinya jatah sekamar dengan Matt.
Matt, yang sedari tadi bermain Resident Evil, mempause gamenya, lalu melempar Mello dengan sebuah tas besar berisi coklat aneka merk-yang-pasti-mahal, lalu me-resume gamenya lagi.
Mello mengambil tas itu –yang jatuh ke lantai padahal sebelumnya mengenai wajahnya- dan membukanya. Ia mengambil sebuah coklat batangan, lalu membuka kulitnya dan memakan kulitnya. Er, maaf, maksudnya, makan coklatnya. Sementara Mello asyik ngemut coklat dan Matt main game, dua lembar kertas melayang dari arah jendela, terhempas angin dan menamplok masing-masing muka mereka.
“Huwa! Siapa yang matiin lampu? Gue tembak dia! Coklat gue!” teriak Mello panik.
“Huwa! Siapa yang matiin lampu? Resident Evil gue kalah dong!!” teriak Matt.
Well, meskipun nggak rela gelap-gelapan dengan alasan yang beda, mereka tetep teriak dengan gaya yang sama, ‘kan? Jahil Cash. Lalu, beberapa saat setelah mereka berdua ngumpat-ngumpat nggak jelas, mereka sadar kalo bukan lampunya yang mati, tapi ada sesuatu yang namplok muka mereka. Jadilah, mereka lega dan membaca isi kertas itu.
“Isi sesuai identitas kalian!” kata Mello, membaca suruhan di lembar kertas itu.
“Harus jujur. Jangan mengulang membaca, usahakan jawab dari dasar hati nurani!” kata Matt, yang membaca suruhan kedua.
Matt dan Mello saling pandang, lalu mereka mengisi kuisioner itu dengan patuh.
--- ©©© --- xxx --- o0o --- xxx --- ©©© ---
Di kamar sebelah, ada Raito Yagami dan L yang sedang duduk berdua di satu sofa. Karena masing-masing salah satu tangan mereka diborgol satu-sama lain, jadinya mereka tidak bisa jauh-jauh. Alhasil, mereka pun dijadikan satu kamar. Wow! Alasan yang (agak) masuk akal.
Nah, di sofa itu, L duduk dengan pose kebanggaannya. Duduk gaya jongkok! Dan Raito, yang merasa seorang gentlewati, maaf, maksudnya, gentleman sejati, duduk dengan menaikkan salah satu pahanya di atas paha lain. Yah, gaya duduk cewek Indonesia.
Mereka duduk-duduk dengan posisi masing-masing, dan melakukan aktivitas masing-masing, dengan pikiran masing-masing, dengan tubuh masing-masing, dan pakaian masing-masing. *author dibakar*
L sedang mengaduk secangkir kopi manissss dengan menggunakan sebuah lolipop coklat. Sedangkan Raito sedang membaca berkas-berkas Kira, untuk mencari celah mana yang bisa ia manipulasi sedemikian rupa sehingga nilai x kurang atau sama dengan nol persen, x elemen bilangan riil. Hehe~ maksudnya, maunya dia manipulasi sedikit supaya persentase dia adalah Kira itu menjadi nol persen. Nah, nol kan termasuk elemen bilangan riil toh?
Semasa mereka serius berpikir (apa sih yang dipikirin L waktu ngaduk-ngaduk kopi?) terbanglah dua lembar kertas kuisioner. Mengingat adanya kejadian tidak elit di kamar sebelah, maka dari itu Cash memutuskan menjatuhkan kertas itu di atas pangkuan masing-masing cowok itu. Kalo jatuh di atas pangkuan Raito mah mulus, nah, masalahnya, pangkuannya L kan terlipat, gara-gara gaya duduknya yang jongkok itu, makanya pahanya menempel dengan perut. Susah buat jatuh di pangkuannya. Makanya, kertas itu dijatuhkan di atas kepala L aja, deh~
“Eh? Ada kertas kuisioner,” kata Raito. Ia mengambil kertas itu, lalu membacanya. “Isi sesuai yang diminta sejujur-jujurnya, jangan biarkan orang di sebelah Anda tahu apa jawaban Anda,” katanya, membaca suruhan di kuisioner itu.
Sementara itu, L yang merasa tidak mendapat jatah kuisioner, protes. “Kenapa Raito-kun dapat tapi saya tidak?”
Raito melihat ke arah L, lalu menunjuk atas kepalanya. L mengambil kuisioner di atas kepalanya, lalu mendapati suruhannya sama dengan yang dibaca Raito. Mereka saling melempar pandangan sedetik, sebelum menjauh sejauh 2 meter *itu panjang rantai mereka* lalu berusaha mengisi kuisioner dengan pose siap membunuh kalau ada yang menyontek.
--- ©©© --- xxx --- o0o --- xxx --- ©©© ---
Di fandom Naruto
Seorang bocah berambut pirang sedang duduk di balkon apartemennya, memandangi langit sore yang kemerahan. Sedangkan, di dalam kamarnya, tepatnya, di dapur yang menjadi satu dengan kamar Naruto, seorang pemuda berambut hitam jabrik dengan bagian belakang rambut bergaya seperti pantat ayam, sedang membereskan mangkuk-mangkuk ramen instan yang berserakan di mana-mana.
“Oi, Dobe! Bantu, dong! Ini sampah ramenmu!” teriak pemuda berkulit putih tapi berbadan krempeng itu. Uchiha Sasuke.
“Hh,” balas Naruto. Sasuke tertegun. Biasanya, kalau Naruto dipanggi Dobe, ia pasti balas memanggil Teme. Apalagi, jawbaanna tadi hanya ‘hh’, biasanya yang menjawab sekenanya dengan ‘hn’ kan Sasuke?!
“Oi, Dobe! Dengkulmu terbentur, ya?”
“Nggak,”
Aneh, ‘kan? Biasanya, kalau ada yang berbeda dengan orang yang kita kenal, kita akan bertanya apa kepalanya terbentur. Lalu kenapa Sasuke bertanya apa dengkul Naruto yang terbentur? ‘Karena dia berpikir memakai dengkul’ pikir Sasuke mantap. Sebuah kunai melayang melewati pipi mulus Sasuke, menancap kuat ke dinding tepat 1 milimeter dari wajah Sasuke.
“Oi, Dobe! Aku ‘kan hanya bercanda!” teriaknya kaget. Eh, Uchiha bisa kaget? Ah, suka-suka author~
“Memangnya ada apa?” kata Naruto. Sasuke cengok sendiri. Lalu, ia menunjuk ke arah dinding, di mana terdapat sebuah kunai lengkap dengan surat tantangan. Eh, tunggu dulu. Surat tantangan?
Sasuke mengambil surat yang terikat di pegangan kunai itu. Ia membacanya, lalu menyerahkan selembarnya ke arah Naruto.
“Tuh ada surat tantangan,”
Naruto mengambil selembar kertas, dan membacanya, “Isi kuisioner ini dengan benar. Kalau menang, dapat hadiah menarik dari author!” Sesaat mereka diam, saling pandang, lalu terjadi pertarungan sengit.
“Rasengan!”
“Chidori!”
Tepat saat kedua elemen itu hampir bertemu (maksudnya sebelum terjadi kehancuran akibat dua elemen yang saling bertentangan) datanglah Cash sang OOC. Ia berdiri di tengah-tengah kedua ninja genin itu, dan bergaya sok keren layaknya Kakashi di Naruto season 3, waktu Sasuke nantang Naruto bertarung di atap rumah sakit.
“Weitz! Tunggu dulu! Kan surat tantangannya nyuruh kalian jawab pertanyaan, kenapa bertarung?”
Sasuke dan Naruto berpandangan, lalu menjawab bersamaan. “Ngaak tahu,” dengan polos, plus tampang (nyaris) tanpa dosa.
“Jyah!! Trus, kenapa bertarung?!”
“Tanya aja sama authornya!” kata Naruto. Cash melihat Sasuke, dan cuma dibales dengan ‘hn’.
“Ya sudah. Jawab tuh, kuisioner. Yang menang bakal dikasi hadiah menarik dari author,” dan Cash menghilang.
“Wow! Datang tak dijemput, pulang tak diantar!” kata Naruto.
“Tepatnya, dia datang tak diundang, pulang nggak bilang-bilang. Main pergi aja. Padahal mau kuajak bersihin sampah ramen ini bareng,” kata Sasuke.
“Eh, hadiahnya apa, ya?”
“Kerjakan saja. Tapi, pasti aku yang menang, Dobe,”
“Heh, Teme. Aku lebih hebat darimu!”
Dan begitulah. Author sendiri gak tahu kenapa kuisioner mereka akhirnya bisa terisi, mengingat pertarungan dahsyat mereka.
--- ©©© --- xxx --- o0o --- xxx --- ©©© ---
Cash tiba-tiba muncul di hadapan readers! Hehe~ kaget nggak? Nggak, ‘kan? Kalo iya, Anda perlu periksa ke dokter mata!
Nah, Cash ini sedang membawa kertas-kertas hasil kuisioner pairing yaoi kita kali ini~
Nah, minna-chan, ini hasilnya~
--- ©©© --- xxx --- o0o --- xxx --- ©©© ---
Name : Mello
Likes : Matt
Dislikes : Kira
Fave thing : COKLAT!!
.
Name : Matt
Likes : Mello
Dislikes : kalah maen game
Fave thing : PSP
.
Name : L
Likes : Raito
Dislikes : crime
Fave thing : sweet food
.
Name : Raito Yagami
Likes : L
Dislikes : unfair
Fave thing : DeathNote
.
Name : Uzumaki Naruto
Likes : Sasu-teme
Dislikes : Akatsuki, Orochimaru
Fave thing : RAMEN
.
Name : Uchiha Sasuke
Likes : Dobe
Dislikes : baka‘tachi
Fave thing : kekuatan
.
setelah membaca hasil kuisioner itu, maka Cash kembali ke alamnya untuk melapor. Hehe~

KELAR FIN

Nah, gimana? Pendek? Hehe~ ini Cuma iseng, jadi jangan diambil hati. Inget review. Baca fic tanpa review? Apa kata dunia? Hehe. Saia bikin ini terinspirasi sama gambar Mello yang bergaya santai, trus di pojok kiri bawahnya ada tulisan namanya dia, kesukaan en apa yg dia nggak suka. Ah, hope you enjoy this story~
Saiia lagi dalam mode lebay~ hehe~ karena sedang stress gak dapet juara umum~
Ya sudah~ saiia mau bikin fic lagi
See you in my next story~~

fanfic DeathNote

Cat
Pairing : MattMello
Rate : T
Genre : Romance/Family – yaoi
Don’t like, don’t read
Disclaimer : Matt & Mello are belong to Takeshi Obata and Tsugumi Ohba
Summary : Matt membawa pulang seekor kucing
------------ enjoy -------------
Hari itu hujan. Air-air asin itu jatuh dengan deras, seakan marah pada bumi dan ingin menghantamnya berulang kali. Dan mungkin itu yang dirasakan oleh pemuda berambut pirang itu. Sudah dua jam dia menunggu, tapi orang itu belum datang juga. Benar-benar membosankan, duduk sendirian membaca kertas-kertas kasus dan tidak ditemani oleh bunyi game.
Hari yang membosankan.
--- --- --- --- ---
Hujan masih deras. Hari sudah semakin sore. Dan dengan rasa malas, Mello berdiri dari duduknya, untuk sekedar menyalakan lampu. Setelah semua lampu dihidupkan, ia kembali duduk di sofa, dan membaca-baca tanpa niat. Hanya sekilas dan sekedar membuang waktu.
Pintu berderit terbuka. Seorang pemuda berambut merah menyala, berbaju belang merah-hitam dan celana jeans masuk. Badannya basah kuyup. Ada tetesan-tetesan air yang jatuh dari rambutnya. Ia terus berjalan menuju ruang tengah, dan tersenyum hangat memandang Mello yang memasang wajah sinis.
“Kau membuang waktuku,”
“Maaf, hujannya terlalu deras. Aku harus berusaha agar laptopku tidak basah,”
“Che,”
Air menetes-netes ke lantai, dan itu membuat Matt harus segera ke kamar mandi. “Aku mau mandi dulu,”
Matt berjalan menuju kamar mandi, dan Mello kembali membaca berkas-berkas. Entah kenapa, kali ini konsentrasinya kembali dan ia bisa menganalisis berkas-berkas itu dengan mudah. Seakan semua beban telah lepas.
“Meow,”
Terdengar bunyi hewan pemakan ikan.
Mello tidak mempedulikan suara itu. ‘Hujan menyamarkan semuanya’ pikirnya.
“Meow,” suara itu terdengar lagi.
Mello masih tidak menanggapinya.
“Meow,”
Dan kali ini, suara itu benar-benar mengganggu. Mello melihat sekelilingnya, dan betapa terkejutnya saat ia melihat seekor kucing hitam ada di depan kakinya. Mello baru akan mengambil kucing itu saat tiba-tiba Matt berjongkok di samping kucing itu. Ia menggendong kucing itu.
“Aku menemukannya di jalan. Kasihan, ‘kan? Dia basah kuyup,”
Mello mengernyit. Mereka saling berpandangan dalam beberapa detik, melancarkan aksi adu kontak mata, dan diakhiri dengan Mello yang mengalihkan pandangan. Tapi meski bukan melalui kata-kata, Matt tahu Mello tidak keberatan.
“Pakai bajumu,” kata Mello. Ia sengaja mengalihkan pandangannya, berpura-pura membaca berkas di tangannya.
“Ah, ya,” kata Matt yang baru sadar kalau ia hanya melilitkan handuk di pinggang sebagai penutup tubuhnya. “Um, oke,”
Mello memandang ke arah jendela. Hujan telah reda. Ia bangkit, dan berjalan menuju pintu. “Aku mau beli coklat,”
Matt mengangguk, masih menggendong kucing itu, sambil mengelus-elus kepalanya.
Setelah yakin Mello telah pergi, Matt bertanya pada kucing itu, “Sepertinya kalian belum saling beradaptasi, ya?”
“Meow,”
--- --- --- --- ---
Mello sedang tidur di bed miliknya (dan Matt). Matt baru saja masuk kamar sambil membawa beberapa berkas, dan menghidupkan laptopnya.
“Sepertinya ada kelompok jalanan baru yang mencari masalah dengan anak buah kita,” kata Matt. Ia berjalan dan duduk di pinggir tempat tidur.
“Suruh Roger mengurus mereka. Cari tahu apa mereka punya relasi dengan mafia yang menjual mariyuana ke Jepang,”
“Baiklah,”
Matt kembali duduk di kursinya dan mencari-cari info tentang geng jalanan itu, sementara Mello masih tiduran.
Kucing hitam itu tiba-tiba naik ke ranjang, dan meringkuk di bantal Mello. Mello membalikkan badannya.’Tidak buruk’ batinnya. Tanpa sadar, Mello mengelus kepala kucing yang tertidur pulas di sebelahnya.
“Dia imut, ‘kan?” kata Matt memecah keheningan.
“Che,” Mello membalikkan badannya lagi, memunggungi Matt.
“Tapi aku tetap lebih menyukaimu, kok,” kata Matt sambil nyengir.
Mello mendengus, membalikkan tubuhnya lagi untuk tidur, tapi Matt sudah ada di sebelahnya dan menarik dagunya. “Itu benar, kok,” Dan pemuda berambut merah itu mencium lembut si pirang. Mello membalas, sebatas ciuman ringan dan lembut.
Beberapa detik, Matt menjauhkan kepalanya. “Kau makan berapa batang coklat hari ini?”
“Siapa peduli,” dan mereka berciuman lagi.
--- --- --- --- ---
Matahari sudah tinggi. Cahaya-cahayanya merambat ke dalam ruangan itu melalui celah jendela yang terbuka. Dan berkas-berkas sinar itu mengenai seseorang yang sedang tertidur pulas.
Sebuah lagu mengalun di udara, membangunkan Matt dari tidurnya. Dengan malas, ia meraba-raba tempat tidurnya untuk mencari handphonenya.
“MATT!!” teriakan itu sukses membuat Matt terbangun. Hal pertama yang ia lihat adalah Mello yang berteriak. “Matikan handphonemu!”
“Eung, oke,” Matt meraba-raba lagi, dan ternyata handphonenya ada di bawah bantal. Herannya, bantal itu tidak berada di bagian kepala tempat tidur, tapi tergeletak di pinggir bawah tempat tidur. Ia segera mematikan handphonenya. Ternyata itu bunyi alarm. “Mello, hari ini kita ada janji dengan orang-orang dari tempat orang itu, ‘kan?”
Mello menoleh. Ia tampak berpikir sebentar, dan mengangguk sekilas. Matt menutupi bagian bawah tubuhnya sampai ke pinggang, dan memandang Mello-yang sedang berjongkok dan bermain-main dengan si kucing hitam-sebagai sarapan paginya.
“Hm, kalau begini, aku jadi tidak lapar,” kata Matt.
Mello menoleh, dengan si kucing dalam rangkulannya. “Kenapa?”
“Melihatmu saja sudah membuatku kenyang,” kata Matt santai. Plus cengiran lebar.
Hening.
“Lalu untuk apa aku membuat sarapan, hah?! Pokoknya kau harus makan!” teriak Mello.
Matt kaget sendiri, tapi ia dengan mudah sadar. Toh setiap hari Mello memang sering marah, kan?
“Che, jangan marah! Kalau kau yang buat pasti aku makan, kan?”
‘Cih, aku kena!’ rutuk Mello.
“Ah, kita harus bersiap-siap, Mells. Sejam lagi mereka datang,” kata Matt. Ia menggoyang-goyangkan tangannya, dan si kucing hitam melepaskan diri dari rangkulan Mello. “Ah, dia patuh padaku,”
“Tentu saja. Kau yang menyelamatkannya,”
“Tidak juga. Dia bisa tinggal di sini karena kau mengizinkannya,”
“Che, ini kan rumahmu,”
“Rumah kita berdua, Mihael Keehl,”
“Che, Mail Jevas,”
“Ok, sebaiknya kita cepat mandi atau mereka akan meninggalkan kita,”
--- --- --- --- ---
Mello duduk di sofa dengan tangan kanan memegang berkas-berkas kasus Kira dan tangan kiri memegang coklat batangan. Ia membaca berkas-berkas itu sambil sesekali, atau beberapa kali, dalam sepuluh detik, menggigiti coklat Cad Burry itu.
“Menarik juga,”
“Apanya?”
Mello menoleh sekilas ke arah Matt, memperhatikan pemuda berambut merah itu. “Kenapa pakai rompi? Mau ke mana?”
“Ah, aku mau beli game baru,”
“Che,”
“Mungkin aku pulang agak sore. Sepertinya ada banyak pilihan baru,” Mello tidak mendengarkan, jadi Matt pergi.
--- --- --- --- ---
Setelah 20 menit.
Kucing itu mengais-ngais di depan kaki Mello. Bosan, Mello memilih bermain-main dengan si hitam itu.
“Kau kesepian?”
“Meow,”
“Yeah, dia memang menyebalkan,”
“Meow,”
“Kerjanya hanya main game saja,”
“Meow,”
“Seharusnya dia bertanggung jawab,”
“Meow?” entah kenapa, nada kucing itu terdengar seakan bertanya.
“Well, dia sudah mengambil kita, jadi seharusnya dia tidak membiarkan kita kesepian,”
“Meow,”
--- --- --- --- ---
Flashback
Hujan.
Apakah itu menunjukkan bahwa ada seseorang yang sedang menangis?
Apakah itu menjadi pertanda bahwa ada seseorang di bumi sana yang sedang bersedih?
Apakah itu pertanda bahwa seseorang baru saja kehilangan?
.
Tidak, tidak selalu begitu.
Kadang hujan bisa menjadi pertanda hari akan cerah.
Dia bisa menjadi pijakan dari awal yang baru.
Ia seolah berkata, “Kehidupan masih akan jadi lebih baik,”
Kata-kata itu berdengung di kepalanya. Kata-kata yang memenuhi pikirannya saat ini, padahal beberapa detik yang lalu ia sedang kalut. Kata-kata yang seolah berasal dari langit.
Tapi suara itu nyata. Mello yakin dia mendengar suara itu. Ia yakin seratus persen, karena dalam hujan yang deras itu, suara itu terasa lain. Terasa begitu menenangkan, dan nyaman.
Ia mengangkat kepalanya, dan menemukan seorang pemuda sebaya dengannya sedang berdiri di hadapannya. Orang aneh yang memakai baju bergaris merah-hitam dengan rompi putih, celana jeans dan sepatu but sebetis. Orang yang aneh, karena di tengah hujan begini bukan langsung pulang malah menyapa orang asing.
Orang aneh yang bisa membuat hatinya merasa nyaman hanya dengan mendengar suaranya saja.
Matt.
.
Mello berdiri. Ia menatap Matt dengan tatapan sinis, sama seperti tatapan yang ia berikan pada anak-anak lain di Whammy House.
“Pergi!”
“Ayo pulang,”
“Aku tidak akan kembali ke sana,” mata si pirang membulat, menolak.
“Ayo pulang,”
“Sudah kubilang, aku tidak ak..”
“Ayo pulang ke manapun kau mau. Ayo pulang ke tempat di mana kita bisa hidup bersama,”
Mello tercengang.
“Matt, tapi, kau... aku... tapi...” suara Mello bergertar. Tangannya juga sama, gemetar. Tubuhnya terasa kaku. Matt, sahabatnya sejak di Whammy House, orang yang sekamar dengannya sejak ia ada di panti itu, orang yang tanpa disadarinya (dan dia tidak mau mengakuinya) sangat ia sayangi-setelah L, tentu. Dan kini, menjadi orang yang tersenyum, mengajak untuk pulang.
“Mello, kalau kau tidak mau kembali ke Whammy, bukan masalah. Aku akan ikut bersamamu,” kalimat yang sederhana. Dengan Matt yang menjulurkan tangannya, menunggu Mello menanggapinya.
.
Hanya kalimat itu. Hanya kalimat itu yang mendasarinya. Hanya kalimat itu yang membuat Mello berlari, menghambur ke arah Matt dan memeluknya erat. Hanya kalimat, dan sebuah kepercayaan, yang membuat mereka mengikat diri untuk terus bersama. Sebuah hubungan baru, untuk hidup baru.
Untuk hidup yang lebih baik. Dengan sebuah ciuman.
Di sela-sela ciuman-di-bawah-hujan itu, Mello -didorong rasa ingin tahu- mengajukan sebuah pertanyaan bodoh -menurut Matt-
“Bagaimana dengan barang-barangmu?”
Matt terkekeh kecil, tapi ia merasa kesal juga. Bagaimana Mello bisa memikirkan hal itu dalam keadaan seperti ini?
“Demi Tuhan! Mello! Hanya kau yang kubutuhkan!”
.
Dan sebuah kalimat lagi yang meyakinkan Mello bahwa hujan tidak selalu buruk.
FLASHBACK OFF
--- --- --- --- ---
Flashback si Kucing
Hujan menghantam bumi. Menghantam semua yang ada di sana, tanpa ampun. Semuanya. Bangunan, pohon, jalan, mobil-mobil, semuanya. Dan juga seorang pemuda berambut merah yang berlari sambil mengumpat.
“Che, sial! Kalau begini Mello akan menunggu lama!”
Di sebuah persimpangan jalan, ia memilih melewati sebuah gang kecil yang bisa jadi jalan pintas menuju rumahnya -dan Mello-
Saat itulah, ia melihat seekor kucing hitam, di atas kardus, menggigil kedinginan, basah tertimpa hujan. Sebenarnya Matt tidak ingin memungutnya, karena ia tahu Mello benci hewan. Tapi keadaan kucing itu malah mengingatkannya pada Mello. Saat ia berhasil meyakinkan Mello –dua tahun lalu-, bahwa mereka bisa bersama.
“Che, kau mengingatkanku padanya, sih. Ayo, kita ke rumahku,” Matt merangkul kucing itu di dekapannya, lalu berlari lagi.
“Mungkin aku harus menyuapnya dengan puluhan coklat,” keluh Matt sambil berlari dan kucing itu dalam dekapannya.
“Meow,”
“Ya, ya. Bukan masalah,”
Flashback si kucing off
--- --- --- --- ---
Matt membuka pintu kamarnya dan menemukan Mello sedang bermain dengan si kucing.
“Kau kembali, Matt,”
“Tentu saja,”
“Kau beli game apa?”
“Resident Evil V,”
“Pinjam,”
“Aku beli pizza,”
“Taruh saja di meja,”
“Aku mau makan sekarang,”
“Che, Matt,”
Mereka berdua duduk di sofa dan makan pizza bersama.
“Mells,”
“Ehn?”
“Siapa?”
“??”
“Nama,”
“??”
Merasa tidak mendapat respon positif dari Mello, Matt menggendong si kucing dengan sebelah tangannya. “Namanya siapa?”
Mello berhenti mengunyah pizzanya.
“Arthur,”
“Eh? Kenapa Arthur?”
“Kau yang bertanya siapa namanya, kan? Aku mau namanya Arthur,”
“Che, Mello. Kau ada-ada saja,”
Matt menurunkan si kucing, sepertinya dia lapar.
“Ah, sepertinya Arthur kita suka pizza tuna,”
“Hey! Itu bagianku!”
“Mells, jangan ambil bagian Arthur!”
“Hey!”
“Bagianku!”
“Biarkan saja!”
“Hey!”
“Meow”
.
.
.
And they live happily ever after
.
.
.
FIN
.
.
Abal, nggak? Aku berusaha bikin fluffy, tapi agak susah *susah banget* Endingnya agak ngegantung. Mohon mahap! Saiia gak pinter bikin fluff. Padahal pengen!!
Ini terinspirasi dari doujin berjudul Love Life. Lagu pengiringnya Hum Hallelujah milik Fall out boy. Mantab! Tapi aku Cuma sertain sedikit *gak semuanya* coz tulisannya kanji. Ini pun aku bikinnya kira-kira, apa yang mereka omongin. Pokoknya REVIEW! Dan kusaranin, untuk keterangan lebih lanjut baca aja doujinnya, ato cari di u-tub.
Mata ashita!!

Senin, 09 November 2009

SORRY

I'M REALLY SORRY!!!
MAHAP
AKUH GAK BISA NEPATIN JANJI!!!!!!!!!!
HIX HIX
akuh gak bisa selesein fic akuh yang udah ada 20-an ituh
naap
habis, tugas numpuk, semua rata2 baru gue ketik 3 per 4 nya
belum ngetik ending!!!
nggak sempet!!!
hix hix
ulangan banyak!!
yaudah
abis ulum ajah aku ngepost fic!
janji!! pasti habis ulum atau paling gak pas libur semester akuh post fic. janji!!! hehe
soalnya, bikin fic punya kesenangan tersendiri buwat aku
huahahaha
ayo! cayo!

Rabu, 04 November 2009

ganti avatar

Saia ganti avatar jadi Juugo!!
Entahlah. Saia jadi suka sama dia *tereak pake toa* mungkin karena dia lucu *liyat rambut jabriknya!* hehe. Alesan dia ikut hebi a.k.a taka a.k.a kelompok-balas-dendam-ala-uchiha-sasuke juga nggak buruk-buruk amat, wong amat aja gak buruk *tumben muji amat* emang diya gak senyum en tampangnya dingin *hebi seimbang deh, 2 orang brisik lagi jarang ngomong* tapi saiia suka. Kita gak bisa menyukai sesuatu dengan alasan, ‘kan? Menurut saia gitu. Hehe
Klu ada yang punya image atawa pernah liyat chibi chara yang lucu nan imut, kastau saiia yaw!! Hehe. Habis, entah sejak kapan, selera saia jadi bishounen *dijauhin karena yaoi beneran*
Hehe. Suka atopun tidak, toh author geblek ini *baca: cassie-HAIKU* memang bishi-lover. Nyahaha
>.<> nggak masalah apa yang kita suka. Toh tujuan adanya situs ffn ini untuk menyalurkan apa yang kita suka, dan menyalurkan semangat mengetik!! Siapa tau dari sini bisa bikin cerita dengan chara sendiri! Keren kan?
Mari, menghormati chara kesukaan orang lain
Fuh . . .
Habis ngebacot banyak saiia jadi haus
Minum dolo
Bai-de-wei
Kok ripyunya dikit ya? Banyakin donk! *ngancem*
Biyar semangat nih! Saiia kan jadi seneng tiap buka imel kalo ada yg isinya [Review Alert]
Nyahaha
Brasa asoy bangat!!
Nyaho! Caio! Review please!!!

ABOUT LIFE

About life
Nyehehe
Saiia ngepost yang gak guna lagi ........ *kayaknya semacam cerita rohani tapi karena yang ngetik saiia jadi rada gak penting*
Saiia disuruh guru bahasa indo saiia untuk cerita tentang salah satu pengalaman. Nyehehe
Saiia ma temen-temen dapet waktu keaknya 2 mingguan geto buat nyiapin diri. Trus, ni beberapa cerita yang saiia inget *summary gak lengkap versi saiia* *dikeplak* *ditendang* *dirajam*
Hm, cerita pertama, er, oh yeah, temen cewe saia *bukan my girlfriend* yang cerita tentang dia pernah bangun jam lima sore, trus mandi, pake seragam en mo brangkat skul. Hehe. Judulnya ‘Bodohnya Aku’
Trus, cerita selanjutnya?? Saiia lupa *dikampak*
Er, yang saiia inget aja. Erm, cerita temen ‘shaolin’ saia, klo dia waktu ke rumah sakit pernah salah masuk mobil *sukur dia gak salah masuk mobil jenazah*
Trus, temen saiia yang pernah tinggal di Surabaya *ato Bandung* waktu dia umur 7-tahun gitu. Dia ngerayain 17 agustusan, trus malemnya maen2 bareng temen2nya ke rumah kosong. Trus, ada suara minta tolong. Mereka kabur, en ternyata, suara minta tolong itu dari salah satu temen se-grup mereka yang jatoh.
En the, temen saiia yang kehilangan-kehabisan-bensin di tengah jalan.
Trus, temen saiia yang ikut pramuka en waktu mo dilantik harus berenang di tengah sungai berlumpur plus ta* kebo.
Cerita temen gw yang dapet hape baru *disangka blackberry padahal ternyata Nexian*
Cerita temen gw yg sakit seminggu en musti nyusul ulangan-ulangan
Cerita temen gw yg ngeliat cewe cantik, tp harus ninggalin tu cewe karena dia pindah
Cerita temen gw yg pernah juara harapan 1 lomba bahasa indo tingkat nasional pas SD
Cerita temen saiia yang ngelawan ketua PKS pas MOS.
Temen saia yang pas ultah ke waterboom, en dibayarin bapak sobatnya *enaknya*
Cerita seorang temen yang nyolong mangga di sekolah waktu dia masih SD
Trus cerita temen saiia yang dikejar anjing malem2 gara2 disuruh beli bawang sama mamahnya
En, yang dapet nilai paling tinggi *lirik cowok putih tinggi yg lebih tinggi dari saia dan lebih putih dari saia, dan lebih ganteng dari saiia dengan tatapan membunuh sekaligus mupeng-karena saiia Cuma 160 cm dan dia 170* ceritanya yah, yang saia upload ficnya *mungkin itu bukan fiction, but i keep it to be a fiction in naru’s fandom*
En, siapa lagi ya?? Cerita saia? Haha
Gak penting. Memalukan. Gak rasional. Dan gak ada yang denger (??)
Tapi, dari itu semua, aku Cuma pengen tahu. Kalian dapet kesan apa? Nggak ada? Ya iyalah.
Cuman saiia ngerasa perlu bikin nie di blog, karena menurut gw, hidup itu nggak mentok itu-itu aja. Gw yakin kok. Percaya sama gw. Buat kali ini aja, percaya sama gw. Karena kalo elo liyat sekitar lo, inget kejadian2 dalam idup lo, pasti deh, lo nemu something yang bisa bikin lo ngeh kalo hidup udah dibikin Tuhan sedemikian rupa, dan sama sekali gak membosankan. Mungkin someday, lo mikir hidup itu ngebosenin. Gw jg ernah ngerasa kaya gitu. Tapi sejak guru bahasa indo gw yang baik bin ramah bin polos en gak pernah marah nyuruh gw ma temen2 sekelas buat bagi2 cerita, gw sadar kehidupan tiap orang pasti beda. Pasti.
Dan lo tau? Hidup itu berjalan sesuai apa yang kita pengen. Kalo kita pengen berhasil, kita bakal berhasil. Bullshit kalo orang bilang hidup lo tergantung nasib. Hidup kita itu –kalo lo percaya Tuhan- dibebasin ama Tuhan. Pernah gak lo dimarahin ama Tuhan gara2 ga bikin pe-er? Nggak kan? Yang ada bonyok lo yang marah, atawa guru lo yang ngejewer lo. Itu bukti Tuhan ngizinin kita jadi apa yang kita mau.
Dan itu berarti, silakan, lo lakuin apa yang lo mau. Dan kalo lo pengen berhasil dalam hidup ini, lakuin apa yang menurut lo bener. Lakuin apa yang menurut lo bisa bikin lo berhasil.
Lo boleh duduk diem, tidur, bangun, makan, tidur lagi, bangun, makan, gitu terus. Silakan. Itu hidup lo. Apa yang bakal terjadi nanti, itu hak lo. Gak ada orang lain yang berhak nerima kehidupan kayak lo. Karena mereka nggak ngelakuin hal yang sama ama elo. Karena mereka melakukan tindakan yang pasti beda sama lo. Karena elo ya elo. Hidup lo ya hidup lo. Mau hidup lo kayak gimana juga, itu karena hasil perbuatan lo.
Tapi kalo boleh, gw mau promosi. Yuk, kita bangkit en ngelakuin apa yang kita bisa sebaik mungkin. And also, ngelakuin itu nggak Cuma pake indra, tapi juga pake hati. Karena menurut gw, bertindak sebaik mungkin jauh lebih mudah dibanding baca blog gw. Itu kalo lo berkenan. Kalo nggak, gw jg ga punya hak buat maksa. Gue kan Cuma promosi biar kita sama-sama bikin hidup ini lebih baik. Dan bermakna. Biar kita gak perlu Death Note Cuma buat ngilangin kebosenan.
Ngerepotin. Iya kalo L ada, kalo ntu Shinigami nagih bukunya gimana? Kalo ntar kita jadi gak bisa masuk surga ato neraka en gentayangan terus gimana? Mau lo?
Yah, gw OOT lagi. T.T sebel jadinya ma diri sendiri. Tapu sutralah. Mau bikin presentasi doeloe. Kerjaan power point numpuk bagaikan cucian di belakang rumah gw.
Ja ne!

fanfic naruto

Naru’s Chilhood
Genre : family/hurt
Disclaimer : Uzumaki Naruto © Masashi Kishimoto
Cerita masa kecil ini © temen saiia
Naru’s chilhood © cassie-HAIKU

Saat itu, entah kenapa langit mendung.
Saat itu, aku tidak ingat kapan. Aku bukan ingin melupakannya, hanya saja, rasanya otakku tidak ingin mengingatnya. Entah sudah berapa tahun lewat sejak saat itu.

Naruto bermain di halaman rumahnya. Meskipun langit mendung, ia tetap bermain pasir di halaman. Ada beberapa temannya yang lewat di depan rumahnya dan mengajak bermain di lapangan dekat sana. Tapi ia menolak. Ia lebih suka bermain di sana, di dekat rumahnya.
Ia sedang membangun-entah-apa, saat ia melihat seseorang berjalan keluar dari rumah. Orang itu berjalan dengan tergesa, dan sedikit pun tidak menoleh ke belakang. Yang Naru ingat, saat itu ia tidak merasakan apapun. Meski ia melihat ibunya menangis di dekat pintu, menatap kepergian orang itu.
Tapi Naruto saat itu masih terlalu kecil. Ia bahkan belum bisa berhitung, seingatnya. Ia hanya melanjutkan bermain pasir. Tanpa perasaan apapun.

Entah sudah berapa lama orang itu pergi dari rumah itu. Naruto tidak merasakan apapun. Ibu dan kakak-kakaknya tidak pernah berbicara tentang orang itu. Tidak pernah, sampai-sampai ia bahkan lupa bahwa ia pernah melihat seseorang itu pergi.
Ia bahkan lupa bahwa seseorang itu pernah ada, dan mengisi hidupnya.
Bahwa orang itu adalah orang yang teramat penting dalam keeksistensiannya.

Hari itu, Naruto bermain seperti biasa.
Bedanya, ia sedang bermain dengan sebuah mainan baru. Mainan pemberian ibunya. Saat itu entah sudah berapa lama sejak kepergian orang itu. Entahlah, ingatan itu benar-benar telah terkubur dalam.
Lalu, ibunya memanggilnya. Kushina memanggilnya dan menyuruhnya untuk menemui seseorang.
Naruto tidak peduli. Ia sedang sibuk bermain dengan mainan barunya. Bermain robocop. Toh, ia tidak mengenal siapa orang yang harus ditemuinya.
Ia terus bermain, tidak peduli pada panggilan ibunya.
Akhirnya, ibunya berhenti memanggilnya. Dan ia tetap bermain dengan riangnya.
Tapi, entah kenapa, tiba-tiba ia tergerak untuk menemui orang itu. Ia tiba-tiba merasakan sebuah perasaan aneh dalam dadanya. Perasaan yang baru bertahun-tahun kemudian ia mengerti. Perasaan rindu yang teramat sangat.
Ia berjalan keluar rumahnya, dan berdiri di trotoar. Ia melihatnya.
Naruto masih memegang robotnya, dan ia tersenyum. Bukan efek robotnya, tapi ia melihat orang itu. Orang yang waktu itu pergi. Dan sekarang orang itu berdiri di seberang jalan sana. Hanya terpisah 5 meter darinya. Hanya 5 meter.
Naruto merasa sangat senang, sekaligus rindu. Ia mulai berlari ke sana, berharap ia bisa segera memeluk orang itu.
Ya. Naruto mulai bisa mengingat siapa orang itu. Dan ia merasa sangat ingin memeluknya.
Ia berlari, terus, dan orang itupun melebarkan lengannya, bersiap memeluk tubuh mungil itu.
Lalu tiba-tiba, semuanya menjadi aneh. Ia tidak mengerti apa yang terjadi.
Semuanya terlalu cepat.
Ia tidak tahu sejak kapan benda itu ada di sana.
Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba truk itu melewatinya.
Melewati orang itu.
Naruto kecil masih berdiri di tempatnya. Aneh memang, seingatnya ia tadi berlari, berharap bisa segera menerima pelukan hangat orang itu. Dan ia masih belum mengerti apa yang terjadi, meskipun orang-orang berteriak, mengerumuni sesosok pria yang tergeletak tak berdaya di tengah jalan raya, dengan cairan merah mengotori pakaiannya yang sebelumnya rapi.
Lalu, iblis merasuki Naruto, dan memberikan kenyataan padanya.
Orang itu . . . .
Orang yang seharusnya ia panggil ayah
Tiba-tiba terenggut begitu saja.
ia bahkan tidak ingat wajahnya.
Ia tidak ingat bagaimana suaranya.
Ia juga tidak ingat bagaimana rasanya dipeluk oleh seseorang yang bernama ‘Ayah’
Dan saat ia akan mendapatkan itu semua, Dia memanggilnya. Terlalu cepat, ‘kan? Ia bahkan tidak memiliki memori apapun tentang orang itu. Tidak ada yang bisa membuatnya tahu, perasaan apa yang melanda hatinya saat itu.

Aku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi. Ibu bilang, ayah pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali.
Kakak bilang, ayah jahat dan aku harus membenci ayah.
Dan yang aku tahu? Yang kutahu, orang itu, yang bersimbah darah waktu itu adalah ayahku.
Tapi ibu selalu mengatakan hal yang sama setiap kali aku bertanya tentang ayah. Selalu jawaban yang sama, setiap kali aku melihat anak-anak lain yang berjalan bersama ayah mereka. Selalu jawaban yang sama, setiap aku pulang ke rumah, menahan tangis karena teman-teman mengejekku tidak punya ayah. Selalu jawaban yang sama.
“Jangan pernah mengingatnya,”

Aku selalu iri setiap melihat anak-anak lain berjalan bersama ayahnya.
Selalu begitu, saat melihat mereka berjalan bersama.
Selalu kesal, saat orang lain berbicara tentang ayah.
Selalu pergi dari sekolah, dan bersembunyi di bawah meja di gudang sekolah setiap hari ayah tiba.
Selalu memasang earphone dan menutup mata saat melihat seorang laki-laki dewasa bersama bayinya.
Selalu menutup mataku, pada dunia.
Dunia di mana orang lain memiliki ayah, dan aku tidak.

Sekarang, aku sedang berdiri di sini.
Di atas ubin kelas. Berdiri membelakangi papan tulis, berhadapan dengan semua teman sekelasku, dan seorang guru. Guru yang meminta kami menceritakan salah satu pengalaman dalam 15 tahun hidup kami. Dan aku bercerita tentang ini. Tentang apa yang telah kalian baca ini.
Aku berbicara, dengan suara sebiasa mungkin. Tapi aku yakin, semua orang di kelasku bisa mendengarnya. Aku memiliki kepercayaan diri, tentu saja. Berbicara di depan teman sekelas tidak akan membuatku down. Kuanggap ini seperti presentasi seperti biasa.
Hanya saja, saat presentasi kali ini, ada sesuatu yang hangat dan basah jatuh ke pipiku. Sesuatu yang kutahu sebagai air mata. Ya. Air mata, yang mengkhianatiku. Air mata ini tetap mengalir meski aku berusaha untuk tegar. Tapi toh, meski CCTV aktif, kepala sekolah di ruangannya tidak melakukan apa-apa.
Toh, tidak ada pasal di dunia-yang kutahu dan aku yakin-yang berisi larangan bagi laki-laki untuk menangis. No, sir. I am not a man. Not yet. Now, i’m just a boy.
Dan ternyata, setelah aku mengakhiri ceritaku, dan berjalan menuju bangku tempatku duduk bersama si ketua kelas, seseorang berkata pelan, sampai hanya aku dan author yang mendengar suaranya
“Ceritamu menelan lima korban,”
Aku mengernyitkan alis, lalu-author rada gak bisa jelasin coz nggak gitu jelas lihat ekspresi orang itu-si em, orang yang memberi laporan itu membuat gerakan semacam menunjuk mata hingga pipi dengan jari telunjuknya, berpantomim seolah jari telunjuk itu air mata.
Aku tersenyum tipis, entah kenapa merasa sedikit terhibur dengan tingkah aneh cewek berambut pendek itu-yang menurut author juga aneh. Mungkin anak itu ingin sedikit mencairkan pikiranku yang masih penuh dengan bayangan orang itu.
Mungkin begitu-author gak tau coz gak sempet nanya ntu cewe rambut pendek.
Dan sepertinya ia ingin mencairkan suasana. Karena ketika ia maju ke depan, ia bercerita tentang sesuatu yang tidak penting menurutku juga author-dijitak cewe itu.
Ceritanya lucu, ditambah gerakan-gerakan tambahan yang meski tidak berlebihan, tetap menarik tawa. Padahal, ia berkata akan menceritakan pengalaman menyeramkan, ternyata caranya menceritakan sama sekali tidak menunjukkan aura horor sedikit pun. Yang ada, kelas meledak-hiperbola doang-dengan tawa, bahkan begitu juga dengan guru kami. Sepertinya ia berhasil. Ia sendiri bahkan meminta maaf di akhir gilirannya, bahwa apa yang ia ceritakan memang tidak penting. Tapi toh ia berhasil mencairkan suasana.
.
.
.
.
.
Hei
Kau tahu?
Hidup itu tidak selalu menyedihkan
Ada kalanya kau sedih
Dan pasti kau pernah bahagia
Aku yakin itu
Meski rasa sakit itu masih ada
Tapi hidup dengan penyesalan sama sekali tidak berguna
Tidak berguna
Jadi, angkat dagumu, tataplah masa depan dan berjuanglah
Karena hidup ini terus berjalan
Karena mengasihani diri adalah tindakan paling menyedihkan
.
.
.
FIN


A/N :
Saia bejad
Benar-benar bejad
Saiia tahu, kok.
Kurang ajar, bejad, atau apapun.
Boleh flame. Silakan.
Tapi please, jangan komentari jalan ceritanya. Komentari aja gimana cara saiia menceritakannya. Inget! Cara saia menyampaikan, bukan isi cerita. Karena isi ceritanya adalah pengalaman temen saiia, jadi please, jangan komentar apapun tentang kehidupan orang lain –digeplak- *padahal sendirinya mengekspous cerita sedih temen*
Maka, dengan senang hati dan lapang dada, saiia menerima review dari Anda
douzo


Selasa, 20 Oktober 2009

YAY!!!!!!!

eh, e, btw, nihhh
akuh lagi di skul trus ngenet, pas bawa leppie, eh taunya wiffi skul aktiv!!!! hehe
jadilah, aku mengupload fic. tapi-tapi, karena tujuan utama akuh ke skul adalah ngerjain tugas kelompok yang nbejibun en temen2 akuh udah manggil2 akuh, minggu depan kupost yang lain!!!
tunggu yaw!!!